Langsung ke konten utama

Untuk yang ke Sekian Kalinya

Ini kali kesekian ku untuk berkecimpung di masalah percintaan. Entahlah. Jika dikatakan tidak mau, jelas aku tidak akan melakukannya. Namun hatiku sudah terlanjur berbicara.

Jika aku dipaksa tuk berkaca, hal itu sudah kulakukan jauh sebelum ini. Aku sadar. Sadar betul, aku hanya setitik debu yang baru saja melintas di hadapanmu sedetik yang lalu. Bandingkan dengan mereka yang sejak lama tertata rapi dan cantik di hadapanmu layaknya rangkaian bunga.

Lagi lagi, memang tak seharusnya aku seperti ini. Melakukan kesalahan di tempat biasa aku salah. Padahal sudah jelas nantinya kan seperti apa. Hanya angan mustahil aku bisa menggapainya.

Entahlah. Padahal urusan dengan yang dahulu saja belum selesai. Tapi apakah sosok yang baru ini akan hanya sekedar menjadi daftar orang yang ku kagumi saja, sama seperti sebelum-sebelumnya. Atau bahkan lebih.

Sampai hari ini aku belum bisa mentranslasikan ambigunya perasaanku kepadanya. Hanya perasaan senang yang kurasa ketika mendengar namanya. Hanya mata yang tak bisa berhenti melihat ketika wajahnya sekedar hadir sesaat. Hanya hati yang tak bisa berhenti terpukau ketika mendengar untaian penjelasannya.

Tapi apa boleh buat. Memang kesalahan besar bagiku untuk berjanji memberinya hadiah. Sebagai imbalan ia yang telah mengajariku 3 malam suntuk. Ditambah perasaan bersalahku yang tak henti-henti memaksanya mengajariku. Salahku memang.

Aku hanya tak ingin perasaan ini menggebu-gebu. Melonjak ingin bertemu, meski tersipu malu. Aku ingin semua kembali seperti semula. Sama seperti sedia kala. Tak ada tatapan-tatapan tajam yang merasuk ke jiwa. Tak ada senyuman-senyuman manis yang menghibur di kala senja. Hingga tak ada lagi perasaan-perasaan senang ketika mulai lagi berjumpa •••

Komentar