Langsung ke konten utama

Mengapa Harus Menjadi Orang Lain?

Ku lihat disana, ia yang tlah nyaman dengan dunianya. Mereka yang asyik, dan lihai menggapai maunya.
Dan segelintir orang-orang yang tahu dimana posisinya
Semua terlihat mudah.
Mudah baginya, bagi mereka.
Yang selalu kupikirkan, "Ah, aku juga bisa!", "semua bisa kalau mau berusaha".
Tapi tidak.
Ada satu hal dalam hidupku yang telah lama terlewatkan. Terabaikan bertahun-tahun hingga menyesatkan jalanku.

Semua yang ku ingin, ku coba dengan sekeras hati.

Namun ketika ku berkaca, aku hanya bisa berkata, "sudah sampai mana diriku melangkah.."
"Kamu hanya bisa mengikuti orang lain! Meniru, berusaha meraih apa yang orang lain raih!"

Tapi tidak.
Bukan seperti itu jalurnya.

Sampailah pada titik maksimal kejenuhanku. Apa yang selama ini aku lakukan hanyalah mencoba menjadi orang lain. Baru tersadari, terasa bedanya. Perasaan senang saat menjalani, dan perasaan keterpaksaan bahkan hingga terbebani.

Aku baru menyadari, rasa-rasa itulah yang menunjukkan dimana diriku seharusnya. Harus menjadi apa diriku nantinya.
Dan pada detik ini aku baru menyadari. Rasa yang selama ini menjenuhkanku, adalah sinyalir bahwa tidak seharusnya aku berada disana, di posisi orang lain. Saat itu aku bukanlah aku. Karena rasa tak nyaman yang menyelimuti, yang secara alami memberi tahuku tidak seharusnya aku menjadi orang lain.

Namun pada lain hal, pada sebuah kondisi, ketika aku merasakan sebuah sensasi, sebuah semangat, sebuah dorongan murni dari hatiku pribadi walaupun waktu berkata tidak, aku akan tetap melakukannya.
Itulah tempat dimana aku seharusnya berpijak.

Wadah yang meski situasi melarang, bahkan dimensi pun tak mendukung, hingga sesuatu yang tak mungkin sekalipin, jika batin sudah berkata ya dan kemauan tuk mencapainya melonjak, aku akan tetap melakukannya.
Disitulah tempatku berada seharusnya.

Hingga pada hari dimana aku masih diberi nafas, rasa sadar itupun menghampiri. Tak seharusnya aku menjadi orang lain. Tak seharusnya aku mengejar apa yang orang lain kejar. Tak seharusnya aku pinta apa yang orang lain pinta.

Tak usah pikirkan itu. Kamu bisa menjadi apa yang seharusnya menjadi bagianmu, bukan bagian orang lain yang sudah ia dapat. Keluarlah dari kerumunan itu dan jadilah pendobrak. Lakukan apa yang menjadi bagian dari sinyal hatimu. Biarkan ia bekerja.
Kamu akan menyadari, bahwa setiap individu akan berada pada titik-titik dimana ia merasa nyaman, dimana ia merasa itulah bagian dari hidupnya, tanpa kenal lelah, tanpa rasa terpaksa, meskipun waktu berkata tidak, atau bahkan pada situasi yang mendesak.

Biarkan dirimu bergerak ke arah sana. Tempat dimana hatimu ingin menuju. Meskipun belum menjadi yang terdepan, tetapi lihatlah nanti. Kau akan menikmati, dan perlahan melesat tinggi..

Komentar