Kebanyakan orang, menganggap masa sma adalah masa yang paling indah.
Begitu pula halnya denganku.
Kisah ini dimulai sejak bertemunya aku dan dia.
Termenung..
Sosok itu membaringkan kepalanya di atas meja yang usang. Tak kudapati lagi raut wajahnya yang berseri.
"Ah, pasti bukan karena ku.."
Aku mulai menolak pikiranku yang menerka bahwa akulah penyebabnya. Penyebab Ia tak lagi seriang dulu.
Mungkin saja karena tes yang akan Ia hadapi. Maklum saja, ini adalah tes terakhirnya yang akan menentukan lulus atau tidaknya dirinya. Ia harus mengulang level tersebut jika gagal. Maklumlah jika itu hingga membuatnya gelisah.
Tetapi di sisi lain, aku masih berpikir bahwa akulah penyebab semuanya..
-•-
Hal ini dimulai saat Ia mengajakku berbicara selepas bel pulang. Ia menghampiri mejaku, dan bertanya suatu hal yang menyangkut masalah percintaan dengan sosok yang ia kagumi. Sontak aku kaget dan merasa sedikit cemburu. Entah, Ia bilang aku gak akan kenal siapa wanita itu. Tapi sudahlah, dengan itu saja aku sudah mendapat kesimpulan.
Aku beranggapan, ia sedang mengagumi seorang wanita dan berniat serius dengannya suatu hari nanti. Ya, ia sama sekali gak akan ngajak wanita itu pacaran karena ia buka lelaki yang suka bermain-main.
Intinya ia sedang mengagumi wanita yang jelas bukan wanita sepertiku. Aku mulai sedikit cemburu, dan berusaha menjauhinya. Aku gak mau ganggu dia sama pujaan hatinya. Biarlah ia. Dan biarlah aku menata hati.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membuat jarak dengannya. Dan entah kenapa, aku selalu memalingkan wajahku tiap kali ia menatap dan menyapaku. Tak pernah juga kuberikan senyumanku. Karena yang kurasakan hanya sakit, dan aku tak mau membuatku bertambah sakit dengan mendekatinya sementara ia dengan pujaan hatinya...
Komentar
Posting Komentar